Langsung ke konten utama

Cinta Harus Segitiga


Aku mencintai guruku (Plato), tapi aku lebih mencintai Kebenaran.” Aristoteles.
+++


Jika diringkas menjadi satu kalimat, buku setipis 177 halaman ini, agaknya, adalah ‘cinta harus segitiga’. Dan jika disederhanakan menjadi satu kata, maka ia adalah ‘kepentingan’.

Meskipun tergolong tipis, tapi buku ini membincang perihal amat penting dalam kehidupan umat manusia: persahabatan. Dalam kaitannya dengan persahabatan inilah cinta menemukan penjelasannya yang tidak biasa-biasa saja.


Buku ini adalah terjemahan dari teks klasik berjudul Lysis, salah satu karya filsuf masyhur asal Yunani, Plato(n). Filsuf ini hidup di Athena, Yunani, tahun 428/427-347/346 SM.

Sungguhpun demikian, pemikirannya hingga detik ini tak kunjung sepi dari perbincangan umat manusia sedunia.

Berbeda dari sains, yang dipenuhi oleh kuburan teori. Sebab jika teori baru ditemukan, itu berarti teori lama terpatahkan dan harus segera dimakamkan. Dunia filsafat mengambil posisi berbeda. Apa yang telah dibincang sekian abad silam, hingga kini masih relevan dan terus menggugah alam pikiran umat manusia. Dan Lysis mengajak kita untuk itu.

Plato, melalui Lysis, mengajak kita mengetahui bentuk-bentuk persahabatan tanpa bermaksud mengakhirinya dengan menyodorkan kesimpulan yang mutlak secara benderang. Dia seolah mempersilakan pembacanya mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menyimpulkan paparannya tentang persahabatan.

Persahabatan mengandaikan relasi cinta subjek-objek. Sebagai perbincangan filosofis, tentu saja cinta di sini bukanlah ihwal ‘cinta monyet’ semata. Melainkan, padanya terkandung berlapis-rinci pembahasan mendalam tentang relasi cinta (philia) pelaku subjek-objek dalam kebersahabatannya.


Plato berpendapat bahwa tidak ada resiprositas (kesalingan) mutlak antara dua orang yang bersahabat. Tidak ada relasi timbal balik di antara dua orang yang bersahabat.


Dalam kegiatan persahabatan, terdapat tiga aspek, yakni subjek, objek, dan pihak ketiga yang mengikat persahabatan, yang disebut Plato sebagai Kebaikan (h.149). Dengan demikian, langgengnya relasi timbal balik antarpelaku persahabatan hanyalah ‘efek’ dari komitmen mereka pada pihak ketiga (Kebaikan) yang berada di luar diri mereka.


Apa itu Kebaikan sebagai pihak ketiga? Orang bersahabat karena menghasrati sesuatu (eros). Hasrat itu terarah kepada tiga aspek: epithumia, thumos, dan logistikon. Ketiga aspek itulah disebut Kebaikan. Kebaikan sebagai pihak ketiga termanifestasi menjadi ketiga aspek tersebut (h.154).


Ada orang yang bersahabat karena sama-sama suka minum, makan, dan seks. Plato merangkumnya dengan istilah uang. Kebaikan di sini berada pada taraf nafsu-nafsu perut ke bawah (epithumia). Mereka yang berkoalisi untuk korupsi, berserikat demi memuaskan kebutuhan seks, dan bersekutu demi kepentingan kuliner adalah menjalin persahabatan ephitumik.


Mereka yang bersahabat karena perkara ambisi, kekuasaan, dan harga diri berada pada persahabatan untuk pemenuhan unsur thumos. Itulah Kebaikan sebagai pihak ketiga untuk tataran persahabatan ini.


Kita dapat menyodorkan amsal: mereka yang mempertahankan gengsi karena sesama anggota organisasi tertentu. Membela organisasi adalah harga mati! Dapat kiranya kita menemukan pegiat persahabatan jenis ini pada sebuah klub sepakbola, negara, perusahaan, institusi, partai, angkatan, dan komunitas.


Persahabatan yang bermuara pada pemenuhan thumos dan ephitumia, kata Plato, hanyalah akan memberikan kegunaan dan kesenangan/kenikmatan belaka. Tapi tidak dengan kebahagiaan. Pada logistikonlah mereka yang bersahabat akan menemukan kebahagiaan.

Kebaikan pada tingkat logistikon ini bersifat abstrak sebab ia adalah nilai. Persahabatan pada tingkat ini muncul karena mencintai nilai (keadilan, kesetiaan, kebaikan sejati). 

Mereka yang bersahabat karena nilai abstrak dengan sendirinya sudah bisa mengendalikan dan menundukkan egoisme diri maupun nafsu dan keinginan terhadap hal-hal material.

Lysis, sebagai judul buku, diambil dari nama seorang tokoh yang terdapat dalam karya Plato ini. Bentuknya dialog. Lysis begitu rinci membincang ‘struktur’ persahabatan. Ada banyak hal menarik dalam dialog Lysis dengan Socrates, Menexenos, Ktessipos, dan Hippothales, di mana Socrates berperan sebagai tokoh utamanya.

Di antara hal menarik itu adalah ketika membincang arti kata ‘oikeion’ (seketurunan). Mereka yang saling mencintai karena suatu Kebaikan, menurut Plato, berada dalam lingkup seketurunan. Plato dalam hal ini menyisihkan relasi persahabatan terkait dengan hubungan darah (h.82). Dengan demikian, persahabatan logistikon tidak begitu mengindahkan perihal kekeluargaan.

Secara tergesa-gesa dapat kiranya kita kenangkan betapa Nabi Muhammad, agaknya, adalah contoh yang baik ihwal pelaku persahabatan tingkat logistikon: Nabi mempersaudarakan Kaum Muhajir dan Anshar atas dasar cinta kepada Sang Maha Abstrak, Tuhan.


Diriwayatkan, beberapa sahabat Nabi menanggung perlakuan tidak senonoh dari keluarga mereka sendiri akibat berpihak pada ajaran Nabi. Lebih jauh, adalah Abu Ubaidah ibn Jarrah dalam memperjuangkan risalah Nabi, sampai membunuh ayah kandungnya. Kutukan Nabi terhadap pamannya sendiri terabadikan dalam al-Qur’an surat al-Lahab (QS. 111:1-5).

Plato banyak menabrak pemahaman banal yang telah galib diamini tentang arti mencintai. Misalnya, tentang adanya resiprositas (timbal balik) antara dua pihak yang saling berkawan. Menurut dia, tidak niscaya demikian. Orang tua yang menyahabati dan mencintai bayinya tanpa peduli apakah ada balasan dari bayinya, buktinya.

Buku ini mendedahkan secara filosofis ketiga aspek yang bekerja dalam persahabatan: subjek, objek, dan pihak ketiga (kepentingan atau Kebaikan). Cinta bukan hanya segitiga, tapi harus segitiga!


Buku Lysis bukanlah buku baru. Ia ditulis puluhan abad silam. Pada rentangan waktu itu, Lysis telah dibaca oleh ribuan bahkan jutaan umat manusia lintas zaman. Ia buku yang telah menjadi klasik. Ia kini dihadirkan untuk pembaca Indonesia melalui terjemahan dan penafsiran yang amat memuaskan.

Mereka yang berhajat mengetahui arti mendalam dari persahabatan, kiranya tidak layak  untuk tidak membaca karya legendaris ini.


Persahabatan tertinggi adalah yang kepentingannya Kebaikan (logistikon). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…