Langsung ke konten utama

Mengenang KH. Ahmad Syarwani Zuhri

Selamat jalan, Abuya...


Kabar itu datang tibatiba: KH. A. Syarwani Zuhri meninggal dunia. Ia berseliweran di  laman berita instagramku @rakastambol. Segera kukonfirmasi kabar itu ke salah satu kawanku via WhatsApp. Iya, betul. Beliau memang telah kembali ke hadirat Ilahi, 26 Maret 2019. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Bayangan tentang sosok beliau segera memenuhi benakku seketika. Ada kesedihan yang tak mampu kujelaskan. Beberapa kenangan bersama beliau masih terpatri jelas di ingatan. Abuya, begitu biasa kami memanggil beliau.



Tahun 2001 aku pernah mondok di pesantren yang beliau dirikan: Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Balikpapan, Kalimantan Timur. Tahun 2005, lulus Tsanawiyah, saat tengah duduk di bangku 1 Aliyah, aku pamit ke Abuya menuntut ilmu di Jawa Timur. Bersama keponakan beliau, Asqalani, kami dilepas dengan doa.

Kalau tak salah, sekitar tahun 2008 pada saat acara peringatan Haul Guru Syarwani Abdan di Bangil-Pasuruan, Jawa Timur, beliau hadir. Aku turut hadir untuk bersilaturahmi dengan beliau. Itulah kali terakhir bertemu Abuya.

Di Ponpes Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, kami ditempa mendalami ilmu agama dengan sistem dan corak tradisional: mengkaji Kitab Kuning. Penguatan ilmu alat, berupa Nahwu dan Sharaf, merupakan hal yang tak terelakkan. 

Awal kali bertemu beliau, aku kagum. Wajahnya teduh. Suaranya lantang dan merdu. Tekun beribadah. Nasihatnya juga begitu menghujam ke kalbu. Apresiasi dan cita rasa Abuya terhadap keindahan syair dan lantunan suara merdu amatlah tinggi. 

Abuya adalah sosok ulama yang mengakrabi dunia sufistik. Pertemuan dini dengan dimensi esoteris dari Islam inilah hal yang paling kusyukuri dari pengalaman mondok. Aku paling senang mendengar ceramah Abuya kalau membahas tema seputar ini. Dari beliaulah aku kenal Hasan al-Bashrie, Imam Al-Ghazali, Sufyan Ats-Tsaurie, Ibrahim bin Adham, Uwais Al-Qarnie, Ibnu Athaillah as-Sakandarie, Rabiatul Adawiyah, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan sederet para tokoh sufi lainnya. 

Melalui ilmu tasawuf, kesejagatan kasih sayang agama Islam berpotensi terpancarkan. Meskipun di kemudian hari barulah aku tahu bahwa ada aliran sufistik lain yang kurang begitu mendapatkan posisi yang berarti bagi rezim mayoritas. Mereka yang tak disebutkan ini berada pada aliran atau madzhab yang sering disebut oleh para peneliti sebagai aliran tasawuf-falsafi. Meskipun istilah tersebut juga problematik. Tokoh yang terkenal adalah Suhrawardi dan al-Hallaj, misalnya.

Tak mudah bagiku menjelaskan dengan baik sosok Abuya. Setiap santri yang pernah bersama Abuya, pasti punya kesan dan pengalaman masing-masing, yang itu akan menjadi kenangan pribadi mereka. Mungkin ini beberapa yang paling kukenang dari sosok Abuya.

Rajin membaca. Memandangi koleksi bukubuku (kitab) beliau itu bikin gelenggeleng kepala. Banyak sekali buku beliau hasil dari perjalanan panjang menuntut ilmu. Waktu itu ditaruh di depan mihrab masjid pesantren. Jumlahnya mungkin ribuan. Belum lagi di perpustakaan pribadi beliau yang ada di samping dan dalam rumahnya. Pokoknya banyak. Itulah kali pertama aku melihat orang yang mengoleksi buku sangat banyak. Semuanya didominasi berbahasa Arab.

Dalam beberapa isi ceramahnya, Abuya sering mendorong membeli kitab. Tidak boleh pelit seseorang kalau untuk urusan ilmu. Dulu pernah beliau merekomendasikan untuk membeli buku berjudul Hilyatul Auliya dan Tafsir Ibnu Katsier. Buku itu mengandung kisah para wali dan tafsir Al-Qur'an. "Jual rumah, jual mobil, jual kebun, beli (buku) Hilyatul Auliya', beli (buku) Ibnu Katsier. Ya namanya..." kata Abuya.

Kadang aku juga sering melihat beliau berjemur menikmati matahari pagi sambil membaca buku. Tubuhnya basah berkeringat menembus baju yang beliau kenakan. Sebuah pemandangan yang sangat indah bagi aku seorang santri belia saat itu.


Abuya masih muda. Bersama buku.


Ulama-saudagar. Ini adalah satu hal yang juga kukagumi dari Abuya. Beliau sosok yang punya beberapa unit bidang usaha. Di antaranya Pom Bensin dan Pabrik Roti. 

Ini mungkin merupakan sebuah keteladanan bagi para pendakwah agar tidak menjadikan dakwahnya sebagai lahan mencari nafkah. Melainkan merekalah yang menafkahi umat. Seperti kisah para ulama-saudagar yang dulu kali pertama datang ke kawasan Nusantara. Mereka saudagar kaya raya yang berwawasan agama yang tinggi. Dan, bukankah Nabi dan para pembesar sahabat juga adalah pendakwah-saudagar?

Dengan kekuatan finansial inilah Abuya dapat membangun pondok pesantren. Tentu saja ada sumbangan suka rela dari pihak luar. Tapi, sekali lagi, Abuya adalah sosok ulama yang sudah selesai dengan persoalan finansial. Hal ini mengandaikan bahwa dakwah Abuya tak mudah diinterupsi oleh perkara perut. Tabik.

Banyak kawan-kawanku digratiskan ataupun disubsidi biaya mondoknya, sambil diberi pekerjaan tertentu. Seperti memelihara sapi, menjadi karyawan pabrik roti, memasak di dapur, dan mengurus Pom Bensin. Aku pernah dengar, jika biaya dari iuran SPP santri tak cukup untuk membiayai operasional pondok, maka ditutupi oleh dana dari kantong pribadi Abuya sendiri.

Perhatian terhadap hal seringkali dianggap kecil. Abuya sosok yang sangat memperhatikan hal kecil. Tentu saja juga terhadap hal yang besar. Beliau sering saat akan pulang ke rumah seusai mengimami shalat, berjalan ke luar masjid sambil melihat-lihat lantai. Memperhatikan kalau ada kotoran atau sampah. Jika dilihat tidak bersih, segera Abuya biasanya memanggil santri untuk membersihkannya.

Beliau juga kadang menasihati kami agar rajin memakai parfum dan membersihkan gigi. Masih ingat waktu dulu kami mengecor untuk pembangunan menara masjid ponpes. Beliau datang mengawasi kami, memastikan konsumsi berupa kolak tersedia. Pokoknya, yang kuingat, terhadap hal yang tampak sepele beliau perhatikan.

Mungkin orang boleh tidak setuju. Tapi aku ingat dulu Abuya pernah menyuruh kami untuk tidak sembarangan meletakkan tulisan berbahasa Arab atau lebih baik dimusnahkan (dibakar) saja. Bahkan terhadap bungkus mie instan. Pasalnya, di bagian belakang bungkus biasanya ada petunjuk penyajiannya berbahasa Arab. Kenapa? Betapa Abuya tidak rela huruf yang dipakai untuk menulis kalam Ilahi dan hadits Nabi, tersia-siakan dan tercampakkan begitu saja. Sekali lagi, let's agree with disagree.

Mungkin karena tingginya porsi perhatian Abuya kepada dimensi akhlakul karimah inilah sehingga beliau selalu berhatihati bila terjatuh kepada perkara buruk akhlak. Bahkan, Abuya tidak begitu merekomendasikan seorang imam shalat membaca surat Al-Lahab setelah bacaan Al-Fatihah. Karena bagaimanapun juga, Abu Lahab adalah Paman Nabi. Cukup Tuhan saja yang boleh mengutuk keluarga Nabi. Begitulah Abuya yang kukenal. Selalu memperhatikan yang hal yang tampak sepele. Dan, sikap kehatiahatian beliau dalam bertindak inilah yang patut digarisbawahi.

Sangat menyayangi santri. Bagi mereka yang pernah mondok dan merasakan tempaan Abuya, akan merasakan hal yang sama. Aku dulu sering bertahan di pondok saat liburan. Sengaja supaya bisa berinteraksi dengan beliau atau sekadar memandangi Abuya beraktifitas. Senang rasanya berada di sekitar beliau. Menjelang lebaran di saat para santri pulang pun aku selalu bertahan di pondok.

Pernah suatu kali saat akan berbuka puasa, aku duduk di dekat beliau. Melihat persiapan bukaku (takjil) yang apa-adanya-dan-sangat-amat-sungguh-sederhana, beliau mengambil sebagian lauk pauk dari piringnya untuk dibagikan kepada kami yang duduk di sekitar beliau. Mereka yang bertahan hingga menjelang lebaran biasanya dapat sarung pemberian beliau.

Hidup Abuya itu adalah tentang menjadi bermanfaat bagi umat manusia. Waktu aku masih di pondok, beliau sering sakit. Meski demikian, semangatnya untuk mendidik santri dan jamaah dari luar begitu tinggi. 

Dalam kondisi sakit, Abuya selalu menjamu ratusan bahkan ribuan jamaah yang hadir pada majelisnya, menghadiri undangan, membangun infrastruktur pondok, memantau kegiatan belajar-mengajar, menerima tamu dari berbagai latar belakang,  dan lain sebagainya. Padahal, andai Abuya mau fokus berobat saja dan menikmati hidup tanpa peduli umat ya...

Duh, Gusti. Kalau ingat kebaikan dan cara mendidik Abuya selama mondok, sesak rasanya hati diliputi kenangan. Harapan baik dan doa tulus kuiringkan atas kepergian Abuya. Terima kasih atas segala kebaikan dan bimbingannya. 

Selamat jalan, Abuya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…